Follow by Email

Senin, 30 April 2012

MASA PEMERINTAHAN RAJA-RAJA MAJAPAHIT


MASA PEMERINTAHAN RAJA-RAJA MAJAPAHIT

Masa Pemerintahan Dyah Suryawikrama Girisawarddhana

Dari Dyah Kertawijaya Wengker (Bhattara ing Wengker).

Setelah interregnum (kekosongan kepemimpinan) selama tiga tahun, maka pada tahun 1456 M, tampillah Dyah Suryawikrama Girisawarddhana menaiki tahta kerajaan Majapahit. Ia adalah salah seorang anak Dyah Kertawijaya yang semasa pemerintahan ayahnya telah menjadi raja daerah (bawahan) di Wengker (Bhattara ing Wengker).
Di dalam kitab Pararaton ia disebutkan dengan nama gelarnya Bhra Hyang Purwwiwisesa. Ia memerintah selama sepuluh tahun, dan pada tahun 1466 M ia meninggal dunia dan didharmakan di Puri.

Masa Pemerintahan Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawarddhana
Dari Bhra Tumapel (bhattara ring Tumapel)

Sebagai penggantinya kemudian Bhre Pandan Salas menaiki tahta kerajaan Majapahit dan memerintah mulai tahun 1466 M. Ia dikenal pula dengan nama Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawarddhana. Sebelum menjadi raja di Majapahit, ia berkedudukan sebagai raja daerah (bawahan) di Tumapel (bhattara ring Tumapel).
Lihat Pararaton hal 40, prasasti Waringinpitu lempeng IV-verso, baris 1-4 dan prasasti Trawulan III, di dalam OV, 1918, hal. 170. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa ia hanya memerintah selama dua tahun, kemudian menyingkir meninggalkan keratonnya. Fakta yang ada berdasarkan prasasti Pamintihan (lihat : F.D.K Bosch, "De Oorkonde van Sendang Sedati", OV, 1922, hal. 22-27) yang dikeluarkan olehnya pada tahun 1473 M,
Ternyata bahwa sampai waktu itu ia masih memerintah sebagai raja Majapahit, bahkan di dalam prasastinya ia disebutkan sebagai seorang Sri Maharajadhiraja yang memimpin raja-raja keturunan Tuan Gunung (sri giripatiprasutabhupatiketubhuta), disamping disebutkan pula sebagai "penguasa tunggal di tanah Jawa" (yawabhumyekadhipa).
Masa Pemerintahan Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya

Sepeninggal Dyah Suraprabhawa, kedudukannya sebagai raja Majapahit digantikan oleh anaknya Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya, yang sebelum menduduki tahta Majapahit beliau berkedudukan sebagai Bhattara i Kling (Raja bawahan di Keling). Pada masa pemerintahannya beliau tidak berkedudukan di Majapahit, melainkan tetap di Keling, oleh karenanya dalam prasasti-prasasti yang dikeluarkannya beliau disebutkan sebagai Paduka Sri Maharaja Bhattara i Kling disamping sebagai Paduka Sri Maharaja Sri Wilwatiktapura Janggala Kadiri Prabhunata.

Pada awal pemerintahannya, Ranawijaya didampingi oleh seorang rakryan apatih yang bernama Pu Wahan (lihat : OJO XCI, baris kedua), sedang pada akhir masa pemerintahannya ia didampingi oleh seorang rakryan apatih yang bernama Udara. Dari Babad Tanah Jawi diperoleh keterangan bahwa patih Udara ini adalah anak dari patih Pu Wahan, yang semula ia berkedudukan sebagai adipati di Kadiri (lihat : W.L. Olthof, Babad Tanah Jawi, 1941, teks bahasa Jawa, hal. 17-18). Suma Oriental, Tome Pires (Armando Cortesao, The Suma Oriental of Tome Pires I, 1944, hal. 175 -176) menyebutkan patih Udara ini dengan nama Pate Udra atau Pate Andura (Pate Amdura).
 M.C. Ricklefs, menghubungkan Pate Andura atau Pate Amdura ini dengan tokoh yang bernama Arta Dirya, yang disebutkan dalam Babad ing Sengkala sebagai raja yang pernah memerintah pada tahun Saka 1403-1407 / 1481 M - 1486 M (lihat : M.C. Ricklefs, Modern Javanese Historical Tradition : A Story of an Original Kartasura Chronicle and Related Materials, London, 1978, hal. 159).

Pada masa pemerintahannya, Ranawijaya berusaha untuk mempersatukan kembali wilayah wilayah dari kerajaan Majapahit yang telah terpecah-pecah akibat pertentangan keluarga saat memperebutkan kekuasaan di Majapahit. Untuk melaksanakan cita-citanya tersebut, maka pada tahun Saka 1400 (1478 M) ia melancarkan peperangan terhadap Bhre Kertabhumi yang pada waktu itu berkedudukan di Majapahit.
Sebagaimana telah diketahui bahwa Bhre Kertabhumi ini telah merebut tahta kerajaan Majapahit dari tangan Bhre Pandan Salas (ayah Ranawijaya) pada tahun 1468 M. Oleh karenanya, tindakan Ranawijaya menyerang Bhre Kertabhumi ini pada dasarnya merupakan revanche (tindakan balasan) atas perbuatan Bhre Kertabhumi tersebut.
Dalam peperangan tersebut Ranawijaya berhasil merebut kembali kekuasaan Majapahit dari tangan Bhre Kertabhumi, dan Bhre Kertabhumi gugur di kadaton. Peristiwa gugurnya Bhre Kertabhumi ini disebutkan pula di dalam Kitab Pararaton (" .... bhre Kertabhumi ..... bhre prabhu sang mokta ring kadaton i saka sunyanora-yuganing-wong, 1400", Pararaton, hal 40. Lihat pula : Hasan Djafar, Girindrawardhana, 1978, hal. 50).
Dari uraian kitab Pararaton inilah kemudian muncul candrasengkala 'Sirna ilang kertining bhumi' , oleh karenanya candrasengkala tersebut pada dasarnya adalah merupakan peringatan tentang peristiwa gugurnya Bhre Kertabhumi di kadaton akibat serangan dari Dyah Ranawijaya dan bukan candra sengakala untuk memperingati keruntuhan dari Kerajaan Majapahit akibat serangan kerajaan Islam Demak.

Peristiwa serangan Ranawijaya terhadap Bhre Kertabhumi ini disebutkan di dalam prasasti Jiwu I yang dikeluarkan oleh Ranawijaya pada tahun 1486 M. Prasasti tersebut dikeluarkan sehubungan dengan pengukuhan anugerah tanah-tanah di Trailokyapuri kepada seorang brahmana terkemuka Sri Brahmaraja Ganggadhara yang telah berjasa kepada raja (Ranawijaya) sewaktu perang melawan Majapahit (Bhre Kertabhumi) sebagai ternyata dalam kalimat "duk ayunayunan yuddha lawaning Majapahit".

Dari prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya pada tahun 1486 M, diketahui adanya upacara sraddha untuk memperingati dua belas tahun meninggalnya Paduka Bhattara ring Dahanapura. Tokoh Bhattara ring Dahanapura ini dapat diidentifikasikan sebagai Bhre Pandan Salas Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawarddhana (Lihat : Martha A Muuses "Singhawikramawarddhana", FBG, II, 1929, hal 207-214, lihat pula Zoetmulder ,P.J "Djaman Empu Tanakung", Laporan KIPN-II, VI, Seksi D, 1965, hal.207), yang telah meninggalkan istana Majapahit pada tahun 1468 M akibat serangan dari Bhre Kertabhumi.
Baiklah, berikut ini adalah uraian Raja-raja Majapahit berikut dengan Patih Amangkubhumi yang mendampinginya  :


Nararya Sanggramawijaya yang bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana, memerintah dari tahun 1293 M - 1309 M.

Beliau adalah putera dari Dyah Lembu Tal, cucu dari Narasinghamurti (Mahisa Campaka), cicit dari Mahisa Wunga Teleng, keturunan dari Ken Arok dari hasil perkawinannya dengan Ken Dedes.
Dengan demikian Sanggramawijaya ini jelas-jelas trah Singosari dan hal ini tidak dapat di ganggu-gugat, silsilah geneologis ini juga nyata dalam pengakuannya sendiri yang tertulis pada prasasti Kudadu berangka tahun 1294 M.

Adapun Patih Amangkubhumi yang mendampinginya adalah Pu Tambi atau yang terkenal dengan sebutan Patih Nambi. Hal ini disebutkan dalam prasasti Penanggungan berangka tahun 1296 M, sebagai berikut "Rakrian Patih : Empu Tambi ; Rakrian Patih Daha : Empu Sora ; Rakrian Demung : Empu Renteng ; Rakrian Demung Daha : Empu Rakat ; Rakrian Kanuruhan : Empu Elam ; Rakrian Rangga : Empu Sasi ; Rakrian Rangga Daha : Empu Dipa ; Rakrian Tumenggung : Empu Wahana ;  Rakrian Tumenggung Daha : Empu Pamor ; Sang Nayapati : Empu Lunggah ; Sang Pranaraja : Empu Sina ; Sang Satyaguna : Empu Bango".

Penulis : J.B. Tjondro Purnomo ,SH 

Ringkas Sejarah Kerajaan Majapahit
(Raden Wijaya)

Kerajaan Majapahit Adalah Sebuah Kerajaan Kuno Di Indonesia Yang Pernah Berdiri Dari Sekitar Tahun 1293 Hingga 1500 M. Kerajaan Majapahit Mencapai Puncak Kejayaan Pada Masa Kekuasaan Raja Hayam Wuruk Yang Berkuasa Dari Tahun 1350 Hingga 1389. Kerajaan Majapahit menganut Agama Hindu-Buddha dan merupakan Kerajaan Terakhir Yang Menguasai Semenanjung Malaya Dan Dianggap Sebagai Salah Satu Dari Negara Terbesar Dalam Sejarah Indonesia.

Pendiri Kerajaan Majapahit bernama Raden Wijaya, beliau Wafat Pada Tahun 1309 Digantikan Oleh Anak beliau Jayanegara. Seperti Pada Masa Akhir Pemerintahan Ayahnya, Masa Pemerintahan Raja Jayanegara Banyak Dirongrong Oleh Pemberontakan Orang-Orang Yang Sebelumnya Membantu Raden Wijaya Mendirikan Kerajaan Majapahit.
Perebutan Pengaruh Dan Penghianatan Menyebabkan Banyak Pahlawan Yang Berjasa Besar Dicap Sebagai Musuh Kerajaan. Jayanegara awalnya Terpengaruh Oleh Hasutan dari Orang kepercayaannya sebut Mahapatih sebagai Biang Keladi Perselisihan Tersebut, Akhirnya Ia Menyadari Kesalahan Ini Dan Memerintahkan Pengawalnya Untuk Menghukum Mati Orang Kepercayaannya Itu.
Dalam Situasi ini Muncul Seorang Prajurit Yang Cerdas Dan Gagah Berani Bernama Gajah Mada. Kemunculannya Sebagai Tokoh yang Berhasil Memadamkan Pemberontakan Kuti, Kedudukannya Pada Waktu Itu Berstatus Sebagai Pengawal Raja [ Bekel Bhayangkari ]. Ia mahir mengatur Siasat dan berdiplomasi, Dikemudian Hari akhirnya membawa nama Gajah Mada Pada dalam Posisi Tinggi Di Jajaran Pemerintahan Kerajaan Majapahit, Yaitu Sebagai Maha mantri Kerajaan.

Kilas hidup Raden Wijaya;

1. Raden Wijaya menikah dengan Tribhuwaneswari Ia Memperoleh Seorang Anak Laki Bernama Jayanagara Sebagai Putera Mahkota Yang Memerintah Di Kadiri.
2. Raden Wijaya menikah dengan Gayatri Ia Memperoleh Dua Anak Perempuan, Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwardhani Yang Berkedudukan Di Jiwana [ Kahuripan ] Dan Ra-Jadewi Maha-Ra-Jasa Di Daha.
3. Raden Wijaya Menikah Dengan Dara Petak Dari Jambi - Sumatera Dan Memiliki Anak bernama Kalagemet.
4. Raden Wijaya menikah dengan Seorang Dara Petak Yaitu Dara Jingga, Diperisteri Oleh Kerabat Raja Bergelar Dewa Dan Memiliki Anak Bernama Tuhan Janaka, Yang Dikemudian Hari Lebih Dikenal Sebagai Adhityawarman, Raja Kerajaan Malayu Di Sumatera.
Kedua Orang Perempuan Dari Jambi Ini Adalah wujud Diplomasi Persahabatan sewaktu masa Raja Kertanegara bersama Raja Malayu Di Jambi Untuk Bersama-Sama Membendung Pengaruh Kubhilai Khan. Untuk menyambung tali persahabatan tersebut Raja Malayu, Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa, Mengirimkan Dua Kerabatnya Untuk Dinikahkan Dengan Raja Singhasari.
Dari Catatan Sejarah Diketahui “Dara Jingga” Tidak Betah Tinggal Di Kerajaan Majapahit, Akhirnya Pulang Kembali Ke Kampung Halamannya.

Pada Masa Jayanegara Hubungan Dengan Cina Kembali Pulih. Perdagangan Antara Kedua Negara Meningkat, Banyak Saudagar Cina menetap Di wilayah Kerajaan Majapahit. Jayanegara Memerintah Sekitar 11 Tahun, Pada Tahun 1328 Ia Dibunuh Oleh Tabibnya Yang Bernama Tanca Karena Berbuat Serong Dengan Isterinya. Tanca Kemudian Dihukum Mati Oleh Gajah Mada. Jayanegara yidak Memiliki Putera.
Pemerintahan Majapahit Setelah Raja Jayanegara, Pimpinan Kerajaan diambil Alih Adik Perempuan Jayanegara, Bernama Jayawisnuwarddhani, Atau Dikenal Sebagai Bhre Kahuripan Sesuai Wilayah Yang Diperintah Sebelum Menjadi Ratu.
Namun Pemberontakan Di Dalam Negeri Terus Berlangsung Menyebabkan Kerajaan dalam situasi berperang. Diantaranya adanya Pemberontakan Sadeng Dan Keta Tahun 1331. Kemelut ini memunculkan kembali Nama Gajah Mada Ke Permukaan.
Keduanya Dapat Dipadamkan Dengan Kemenangan Mutlak diPihak Kerajaan Majapahit. Setelah Persitiwa Ini, Mahapatih Gajah Mada Mengucapkan Sumpahnya Yang Terkenal, yaitu Sumpah Amukti Palapa , Mulailah Ia menundukkan Daerah-daerah Di Nusantara, Seperti;
Gurun [ Di Kalimantan ], Seran [ ? ], Tanjungpura [ Kalimantan ], Haru [ Maluku? ], Pahang [ Malaysia ], Dompo [ Sumbawa ], Bali, Sunda [ Jawa Barat ], Palembang [ Sumatera ], Dan Tumasik [ Singapura ]. Untuk Membuktikan Sumpahnya, Pada Tahun 1343 Bali Berhasil Ia Ditundukan.

Era Pemerintahan Ratu Jayawisnuwaddhani,
Ratu memerintah selama 22 Tahun. Akhirnya digantikan Anaknya Yang Bernama Hayam Wuruk, Anak dari perkawinan dengan Cakradhara, Penguasa Wilayah Singhasari.
Era Pemerintahan Hayam Wuruk,
Hayam Wuruk dinobatkan Sebagai Raja Tahun 1350. Dengan Gelar Sri Rajasanagara. Gajah Mada Tetap Mengabdi Sebagai Patih Hamangkubhumi [ Mahapatih ] Yang Diperolehnya Ketika Mengabdi Kepada Ibunda Sang Raja.
Di Masa Pemerintahan Hayam Wuruk Inilah Kerajaan Majapahit Mencapai Puncak Kebesarannya. Ambisi Gajah Mada Untuk Menundukkan Nusantara Mencapai Hasilnya Di Masa Ini Sehingga Pengaruh Kekuasaan Kerajaan Majapahit cukup luas.
 Pengaruh dirasakan Sampai Ke Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Maluku, Hingga Papua, dan Jawa Barat dapat Ditaklukkan Pada Tahun 1357 Melalui Sebuah Peperangan Yang Dikenal Dengan Peristiwa Bubat, Yaitu Ketika Rencana Pernikahan Antara Dyah Pitaloka, Puteri Raja Pajajaran, Dengan Hayam Wuruk Berubah Menjadi Peperangan Terbuka Di Lapangan Bubat, merupakan Lapangan Di Ibukota Kerajaan Yang Menjadi Lokasi Perkemahan Rombongan Kerajaan Tersebut.
Akibat Peperangan Itu Dyah Pitaloka Bunuh Diri dan Menyebabkan Perkawinan Politik Dua Kerajaan Ini Gagal. Dalam Kitab Pararaton Disebutkan Bahwa Setelah Peristiwa Itu “Hayam Wuruk Menyelenggarakan Upacara Besar Untuk Menghormati Orang-Orang Sunda Yang Tewas Dalam Peristiwa Tersebut”.
Pada Waktu Bersamaan Kerajaan Majapahit Juga melakukan Eskpedisi Ke Dompo [ Padompo ] Dipimpin Oleh Seorang Petinggi Bernama Nala Kerajaan Majapahit Menguasai Kerajaan-Kerajaan Lain Di Semenanjung Malaya, Borneo, Sumatra, Bali Dan Filipina dan kekuasaan kerajaan majapahit terbentang hingga Indonesia Timur. Meskipun Wilayah Kekuasaan Masih Diperdebatkan.

Hanya Terdapat Sedikit bukti- bukti secara fisik dari Sisa-Sisa Kerajaan Majapahit Dan Sejarah Tak Jelas. Sumber Utama dirumuskan Oleh Sejarawan Adalah Pararaton - Kitab Raja-Raja Dalam Bahasa Kawi Dan Nagara kertagama Dalam Bahasa Jawa Kuno. Pararaton Terutama Menceritakan Ken Arok [ Pendiri Kerajaan Singhasari ] Namun Juga Memuat Beberapa Bagian Pendek Mengenai Terbentuk Kerajaan Majapahit.

Sementara itu Nagarakretagama Merupakan Puisi Jawa Kuno Yang ditulis pada Masa Keemasan Kerajaan Majapahit di bawah Pemerintahan Hayam Wuruk. Setelah Masa itu hal Yang Terjadi tidaklah Jelas. Selain Itu terdapat beberapa Prasasti Dalam Bahasa Jawa Kuno Maupun Catatan Sejarah Dari Tiongkok dan Negara-negara Lain
Keakuratan Semua Naskah Berbahasa Jawa Tersebut Dipertentangkan. Tidak Dapat Disangkal Bahwa Sumber-Sumber Itu Memuat Unsur Mitos. Beberapa Sarjana Seperti C.C. Berg Menganggap Semua Naskah Tersebut Bukan Catatan Masa Lalu Tetapi Memiliki Arti Supernatural Dalam Hal Dapat Mengetahui Masa Depan.
Namun Demikian Banyak Pula Sarjana Yang Beranggapan Bahwa Garis Besar Sumber-Sumber Tersebut Dapat Diterima Karena Sejalan Dengan Catatan Sejarah Dari Tiongkok Khusus Daftar Penguasa Dan Keadaan Kerajaan Yang Tampak Cukup Pasti.

Ulas balik Kerajaan Singhosari setelah Raja Kertanegara Gugur

Kerajaan Singhasari Berada Di Bawah Kekuasaan Raja Jayakatwang dari Kadiri. Salah Satu Keturunan Penguasa Singhasari, Yaitu Raden Wijaya, Kemudian Berusaha Merebut Kembali Kekuasaan Nenek Moyangnya. Ia Adalah Keturunan Ken Arok, Raja Singhasari Pertama Dan Anak Dari Dyah Lembu Tal. Ia Juga Dikenal Dengan Nama Lain, Yaitu Sri baginda Raja Nararyya Sanggramawijaya pendiri Kerajaan Majapahit.
Menurut Sumber Sejarah, Raden Wijaya Sebenarnya Adalah Mantu Kertanegara Yang Masih Terhitung Keponakan. Kitab Pararaton Menyebutkan Bahwa Ia Mengawini Dua Anak Sang Raja Sekaligus, Tetapi Kitab Negarakertagama Menyebutkan Bukannya Dua Melainkan Keempat Anak Perempuan Kertanegara Dinikahinya Semua.
Pada Waktu Jayakatwang Menyerang Singhasari, Raden Wijaya Diperintahkan Untuk Mempertahankan Ibukota Di Arah Utara. Kekalahan Yang Diderita Singhasari Menyebabkan Raden Wijaya Mencari Perlindungan Ke Sebuah Desa Bernama Kudadu, Lelah Dikejar-Kejar Musuh Dengan Sisa Pasukan Tinggal Duabelas Orang.
Berkat Pertolongan Kepala Desa Kudadu, Rombongan R.Wijaya dapat Menyeberang Laut menuju pulau Madura dan Memperoleh Perlindungan Dari Aryya Wiraraja, Seorang Bupati Di Pulau Ini. Berkat Bantuan Arya Wiraraja, R.Wijaya akhirnya kembali ke pulau Jawa Dan Diterima Oleh Raja Jayakatwang.
Kemudian Ia Diberi wilayah Di daerah Hutan Tarik Untuk Dibuka Menjadi Desa, Hal ini bertujuan untuk Mengantisipasi Serangan Musuh Dari Arah Utara Sungai Brantas. Berkat Bantuan Aryya Wiraraja Ia Kemudian Mendirikan Desa Baru Yang Diberi Nama Majapahit dikenal kemudian menjadi Kerajaan Majapahit.
Di Desa Inilah Raden Wijaya sebagai pemimpin Dan mulai menghimpun kekuatan baru, Khususnya Rakyat Yang Loyal Terhadap Almarhum Kertanegara Berasal Dari Daerah Daha Dan Tumapel. Aryya Wiraraja Sendiri ikut menyiapkan Pasukannya Di Madura Untuk Membantu Raden Wijaya Bila Saatnya tiba diperlukan. dimungkinkan Ia Pun Kurang Menyukai Raja Jayakatwang.
Sesudah Singhasari Mengusir Sriwijaya Dari Jawa Secara Keseluruhan Pada Tahun 1290 Singhasari Menjadi Kerajaan Paling Kuat Di Wilayah Tersebut. Hal Ini Menjadi Perhatian Kubilai Khan Penguasa Dinasti Yuan Di Tiongkok. Ia pun Mengirim Utusannya Bernama Meng Chi Ke Singhasari tujuan menuntut  Upeti.
Kertanagara Penguasa Kerajaan Singhasari Menolak Untuk Membayar Upeti Dan Mempermalukan Utusan Tersebut dengan Merusak Wajah dan Memotong Telinganya sebagai dasar ia menolak memberi Upeti. Melihat Utusannya tersebut Kublai Khan Marah Lalu Memberangkatkan Ekspedisi Besar Ke Jawa Tahun 1293.
Ketika Itu Jayakatwang sebagai Adipati Kediri Sudah Membunuh Kertanagara. Atas Saran Aria Wiraraja Jayakatwang Memberikan Pengampunan Kepada Raden Wijaya Menantu Kertanegara Yang Datang Menyerahkan Diri. Sebagaimana diatas disebutkan R.Wijaya Kemudian Diberi Hutan Tarik . Dan akhirnya ia Membangun Desa Baru ditempat tersebut.
Desa Itu Dinamai Majapahit Yang Nama Diambil Dari Buah Maja, Rasanya amat pahit. Ketika Pasukan Mongolia Tiba, R.Wijaya Bersekutu Dengan Pasukan Mongolia Untuk Bertempur Melawan Jayakatwang. Pada akhirnya R.Wijaya Berbalik Menyerang Sekutu Mongol Sehingga Memaksa Mereka untuk menarik Pulang Kembali Pasukannya Secara Kalang-Kabut sebab Mereka Berada Di Teritori Asing. Saat Itu menjadi Kesempatan Terakhir Mereka agar Dapat Pulang Atau Mereka Harus Terpaksa Menunggu Enam Bulan Lagi Di Pulau Yang Asing,
“Hal ini Tidak Terduga Sebelumnya Bahwa Pada Tahun 1293 Jawa, Kedatangan Pasukan Dari Cina Diutus Oleh Kubhilai Khan Untuk Menghukum Singhasari Atas Penghinaan Yang Pernah Diterima Utusannya Pada Tahun 1289”.
Pasukan Berjumlah Besar Ini Setelah Berhenti Di Pulau Belitung Untuk Beberapa Bulan Dan Kemudian Memasuki Jawa Melalui Sungai Brantas Langsung Menuju Ke Daha. Kedatangan Ini Diketahui Oleh R.Wijaya, Ia Meminta Izin Untuk Bergabung Dengan Pasukan Cina Yang Diterima Dengan Sukacita.
Serbuan Ke Daha Dilakukan Dari Darat Maupun Sungai Yang Berjalan cukup Sengit Sepanjang Pagi Hingga Siang Hari. Gabungan Pasukan Cina Dan R.Wijaya Berhasil Membinasakan 5.000 Tentara Daha. Dengan Kekuatan Yang Tinggal Setengah, Jayakatwang akhirnya Mundur Untuk Berlindung Di Dalam Benteng. Sore Hari, Menyadari Ia Tidak Mungkin lagi mempertahankan Daha, Jayakatwang Keluar Dari Benteng dan akhirnya Menyerahkan diri untuk Kemudian ditawan Oleh Pasukan Cina.

Dengan Dikawal Dua Perwira, 200 Pasukan Cina, R.Wijaya minta Izin Kembali ke Kerajaan Majapahit Untuk Menyiapkan Upeti Bagi Kaisar Khubilai Khan. Namun Dengan Tipu Muslihat R.Wijaya, Ia melakukan serangan balik, akhirnya Kedua Perwira beserta Pengawalnya berhasil dibinasakan Oleh Raden Wijaya.
Bahkan Ia Berbalik Memimpin Pasukan Kerajaan Majapahit Menyerbu Pasukan Cina Yang Masih Tersisa, Tidak Menyadari Bahwa R.Wijaya Akan Bertindak Demikian. Tiga Ribu Anggota Pasukan Kerajaan Yuan Dari Cina Ini dapat dibinasakan Oleh Pasukan Kerajaan Majapahit, Selebihnya Melarikan diri Keluar Jawa Dengan Meninggalkan Banyak Korban.
Akhirnya Cita-Cita R.Wijaya Untuk Menjatuhkan Daha Dan Membalas Sakit Hatinya Kepada Jayakatwang terwujud Dengan Memanfaatkan Tentara Asing tersebut. Ia Kemudian Memproklamasikan Berdirinya Sebuah Kerajaan Baru Yang Dinamakan Kerajaan Majapahit.
Pada Tahun 1215 Raden Wijaya akhirnya Dinobatkan Sebagai Raja Pertama kerajaan Majapahit Dengan Gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana. Keempat Anak Kertanegara Dijadikan Permaisuri Dengan Gelar;
1. Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari, 2. Sri Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, 3. Sri Jayendradewi Dyah Dewi Prajnyaparamita, 4. Dan Sri Rajendradewi Dyah Dewi Gayatri.

Tanggal Pasti Yang Digunakan Sebagai Tanggal Kelahiran berdirinya Kerajaan Majapahit Adalah menurut Hari Penobatan R.Wijaya Sebagai Raja Yaitu Pada Tanggal 10 November 1293. Ia Dinobatkan Dengan Nama Resmi Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan Ini Menghadapi Masalah. Akibat perselisihan dan hasutan dari pihak ke tiga dalam pemerintahannya dari beberapa Orang Terpercaya Kertarajasa Termasuk Ranggalawe, Lembu Sora dan Nambi Memberontak Melawan kerajaan, walaupun Pemberontakan Tersebut Tak Berhasil juga.
Menurut sumber hal ini terjadi karena Mahapatih Halayudha Lah Yang Melakukan Konspirasi Untuk Menjatuhkan Semua Orang Terpercaya Raja Agar Ia Dapat Mencapai Posisi Tertinggi Dalam Pemerintahan. Namun Setelah Kematian Pemberontak Terakhir [ Kuti ] Halayudha akhirnya ditangkap dan dipenjara, lalu dihukum Mati. R.Wijaya Meninggal Dunia Pada Tahun 1309.

Anak Dan Penerus Wijaya adalah Jayanegara Adalah Penguasa Yang Jahat Dan Amoral. Ia Digelari Kala Gemet Yang Berarti Penjahat Lemah. Pada Tahun 1328 Jayanegara Dibunuh Oleh Tabib Tanca. Ibu Tiri Yaitu Gayatri Rajapatni Seharus Menggantikan Akan Tetapi Rajapatni Memilih Mengundurkan Diri Dari Istana Dan Menjadi Pendeta Wanita.
Rajapatni Menunjuk Anak Perempuan bernama Tribhuwana Wijayatunggadewi Untuk Menjadi Ratu di Kerajaan Majapahit. Selama Kekuasaan Tribhuwana Kerajaan Majapahit Berkembang Menjadi Lebih Besar Dan Terkenal Di Daerah Tersebut. Tribhuwana Menguasai Kerajaan Majapahit Sampai Kematian Ibu Pada Tahun 1350.
Ia Diteruskan Oleh Putra Hayam Wuruk. Hayam Wuruk Juga Disebut Rajasanagara Memerintah Kerajaan Majapahit Dari Tahun 1350 Hingga 1389.
Pada Masa Kerajaan Majapahit Mencapai Puncak Kejayaan Dengan Bantuan Mahapatih Gajah Mada. Di Bawah Perintah Gajah Mada [ 1313-1364 ] Kerajaan Majapahit Menguasai Lebih Banyak Wilayah.
Pada Tahun 1377 Beberapa Tahun Setelah Kematian Gajah Mada Kerajaan Majapahit Melancarkan Serangan Laut Ke Palembang Menyebabkan Runtuh Sisa-Sisa Kerajaan Sriwijaya. Jenderal Terkenal Kerajaan Majapahit Lain Adalah Adityawarman Yang Terkenal Karena Penaklukan Di Minangkabau

Setelah Peristiwa Bubat, Mahapatih Gajah Mada Mengundurkan Diri Dari Jabatannya Karena Usia Lanjut, Sedangkan Hayam Wuruk Akhirnya Menikah Dengan Sepupunya Sendiri Bernama Paduka Sori, Anak Dari Bhre Wengker Yang Masih Terhitung Bibinya. Di Bawah Kekuasaan Hayam Wuruk Kerajaan Majapahit Menjadi Sebuah Kerajaan Besar dan Kuat, Baik Di Bidang Ekonomi Maupun Politik. Hayam Wuruk Memerintahkan Pembuatan Bendungan- bendungan, saluran-saluran Air Untuk Kepentingan Irigasi Dan guna mengendalikan Banjir.
Sejumlah Pelabuhan Sungai dibuat untuk memudahkan Sarana Transportasi guna menunjang Bongkar Muat Barang. Empat Belas Tahun Setelah Ia Memerintah, Mahapatih Gajah Mada Meninggal Dunia Di Tahun 1364. Jabatan Patih Hamangkubhumi Tidak Terisi Selama Tiga Tahun Sebelum Akhirnya Gajah Enggon Ditunjuk Hayam Wuruk Mengisi Jabatan tersebut.
Tidak Banyak sumber yang dapat menceritakan tentang Gajah Enggon, baik di dalam Prasasti Atau Pun Naskah- Naskah Masa Kerajaan Majapahit Yang Dapat Mengungkap Sepak Terjangnya dalam pemerintahan kerajaan Majapahit.
Raja Hayam Wuruk akhirnya Wafat Tahun 1389. Menantu Yang Sekaligus Merupakan Keponakannya Sendiri, Bernama Wikramawarddhana Naik Tahta Sebagai Raja, Namun Bukan Kusumawarddhani Yang seharusnya mengantikannya sebagai Garis Keturunan Langsung Dari Hayam Wuruk. Pada Akhirnya, Ia Memerintah Selama (Dua belas) 12 Tahun Sebelum Mengundurkan Diri Sebagai Pendeta.
Sebelum Turun Tahta Ia Menujuk Puterinya, Suhita Menjadi Ratu. Hal Ini Tidak Disetujui Oleh Bhre Wirabhumi, Anak Hayam Wuruk Dari Seorang Selir Yang Menghendaki Tahta Itu Dari Keponakannya. Perebutan Kekuasaan Ini mengakibatkan Perang Saudara Yang Dikenal Dengan adanya Perang Paregreg.
Bhre Wirabhumi Yang Semula Memperoleh Kemenanggan Akhirnya Harus Melarikan Diri Setelah Bhre Tumapel Ikut Campur Membantu Pihak Suhita. Bhre Wirabhumi Kalah Bahkan Akhirnya Terbunuh Oleh Raden Gajah. Perselisihan Keluarga Ini Membawa Dendam Yang Tidak Berkesudahan. Beberapa Tahun Setelah Terbunuhnya Bhre Wirabhumi Kini Giliran Raden Gajah Yang Dihukum Mati Karena Dianggap Bersalah Membunuh Bangsawan Tersebut.
Menurut Kakawin Nagarakretagama Pupuh XIII-XV Daerah Kekuasaan Kerajaan Majapahit Meliputi; “Sumatra Semenanjung Malaya Borneo Sulawesi Kepulauan Nusa Tenggara Maluku Papua Dan Sebagian Kepulauan Filipina”. Namun Demikian Batasan Alam Dan Ekonomi Menunjukkan Bahwa Daerah-Daerah Kekuasaan Tersebut Tampak Tidaklah Berada Di Bawah Kekuasaan yang terpusat Kerajaan Majapahit. Tetapi Terhubungkan Satu Sama Lain Oleh Perdagangan Yang Mungkin Berupa Monopoli Oleh Raja. Kerajaan Majapahit Juga Memiliki Hubungan Dengan Campa, Kamboja, Siam Birma Bagian Selatan Dan Vietnam, Bahkan Mengirimkan Duta-Duta Ke Tiongkok.

Ratu Suhita Wafat Tahun 1477, Karena Tidak Mempunyai Anak. Kedudukannya Digantikan Oleh Adiknya, Bhre Tumapel Dyah Kertawijaya. Tidak Lama Ia Memerintah Digantikan Oleh Bhre Pamotan Bergelar Sri Rajasawardhana Yang Juga Hanya Tiga Tahun Memegang Tampuk Pemerintahan, Antara Tahun 1453-1456.
Dalam Pemerintahan Kerajaan Majapahit belum memiliki Raja Karena adanya Perdebatan Di Dalam Keluarga Kerajaan. Gejolak dalam kerajaan Sedikit terkendali, saat Dyah Suryawikrama Girissawardhana Naik Tahta. Namun Ia Pun Tidak Lama Memegang Kendali Kerajaan Karena Setelah Itu Perebutan Kekuasaan Kembali terjadi lagi.
Demikianlah Kekuasaan Kerajaan Majapahit Silih Berganti Beberapa Kali Dari Tahun 1466 Sampai Menjelang Tahun 1500. Berita-Berita di Cina, Italia, Dan Portugis Masih Menyebutkan Nama Kerajaan Majapahit Di Tahun 1499 Tanpa Menyebutkan Nama Rajanya. Pada akhirnya diketahui, Semakin Meluasnya Pengaruh dari Kerajaan Kecil Demak Di Pesisir Utara Jawa sebagai kerajaan- kesultanan yang Menganut Agama Islam, pada puncaknya diketahui sebagai Salah Satu Penyebab dari Runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Sesudah Mencapai Puncak Pada Abad Ke-14 Kekuasaan Kerajaan Majapahit Berangsur-Angsur Melemah. Akibat terjadinya Perang Saudara [ Perang Paregreg ] Pada Tahun 1405-1406 Antara Wirabhumi Melawan Wikramawardhana. Demikian Pula Telah Terjadi Pergantian Raja Yang Dipertengkarkan Pada Tahun 1450-An Dan Pemberontakan Besar Yang Dilancarkan Oleh Seorang Bangsawan Pada Tahun 1468.
Dalam Tradisi Jawa Ada Sebuah Kronogram Atau Candra sengkala Yang Berbunyi Sirna Ilang Kretaning Bumi.
Sengkala Ini Konon Adalah Tahun Berakhir Kerajaan Majapahit Dan Harus Dibaca Sebagai 0041 Yaitu Tahun 1400 Saka Atau 1478 Masehi. Arti Sengkala Ini Adalah Sirna Hilanglah Kemakmuran Bumi. Namun Demikian Yang Sebenarnya Digambarkan Oleh Candrasengkala Tersebut Adalah memperingati Gugurnya Bre Kertabumi Raja Ke-11 Kerajaan Majapahit Oleh Girindrawardhana
Tahun 1522 Kerajaan Majapahit Tidak Lagi Disebut Sebagai Sebuah Kerajaan Melainkan Hanya Sebuah Kota. Pemerintahan Di Pulau Jawa Telah Beralih Ke Demak Di Bawah Kekuasaan Adipati Unus, Anak Raden Patah, Pendiri Kerajaan Demak Yang Masih Keturunan Bhre Kertabhumi.
Ia Menghancurkan Kerajaan Majapahit Karena Ingin Membalas Sakit Hati Neneknya Yang Pernah Dikalahkan Raja Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya. Demikianlah Maka Pada Tahun 1478 Hancurlah Kerajaan Majapahit Sebagai Sebuah Kerajaan Penguasa Nusantara Dan Berubah Satusnya Sebagai Daerah Taklukan Raja Demak.
Berakhir Pula Rangkaian Penguasaan Raja-Raja Hindu- budha Di Jawa Timur Yang Dimulai Oleh Ken Arok Saat Mendirikan Kerajaan Singhasari, dan pada akhirnya berakhir menjadi Bentuk Kerajaan Baru yang Bercorak Agama Islam.

Sewaktu Kerajaan Majapahit Didirikan Pedagang Muslim Dan Para Penyebar Agama Sudah Mulai Memasuki wilayah Nusantara. Terjadi pada Akhir Abad Ke-14 Dan Awal Abad Ke-15 .Pengaruh Kerajaan Majapahit, Di Seluruh Nusantara Mulai Berkurang. Pada Saat Bersamaan Sebuah Kerajaan Perdagangan Baru Yang Berdasarkan Agama Islam Yaitu Kesultanan Malaka Mulai Muncul Di Bagian Barat Nusantara.

Catatan Sejarah Dari Tiongkok Portugis [ Tome Pires ] Dan Italia [ Pigafetta ] Mengindikasikan Bahwa Telah Terjadi Perpindahan Kekuasaan Kerajaan Majapahit Dari Tangan Penguasa Hindu Ke Tangan Adipati Unus Penguasa Dari Kesultanan Demak Antara Tahun 1518 Dan 1521 M.

Letak Geografis Kerajaan Majapahit Merupakan Negara Agraris serta Negara Perdagangan. Kerajaan Majapahit Memiliki Pejabat- pejabat berwenang Sendiri Untuk Mengurusi Pedagang Dari India Dan Tiongkok Yang Menetap Di Ibu Kota Kerajaan, Maupun bertempat diberbagai Wilayah lain dari Kerajaan Majapahit Di Jawa.
Menurut Catatan Wang Ta-Yuan Pedagang Tiongkok Komoditas Ekspor Jawa Pada Saat Itu Ialah berupa “Lada, Garam, Kain Dan Burung Kakak Tua” Sedangkan Komoditas Impor Adalah “Mutiara, Emas, Perak, Sutra, Barang Keramik Dan Barang Dari Besi”.dan untuk memudahkan perdagangan terdapat Mata Uang kerajaan Majapahit yang dibuat dari Campuran bahan Perak, Timah Putih, Timah Hitam Dan Tembaga.
Selain Itu Catatan Odorico Da Pordenone Biarawan Katolik Roma Dari Italia Yang Mengunjungi Jawa Pada Tahun 1321. Menyebutkan Bahwa Istana Raja Jawa Penuh Dengan Perhiasan Emas Perak Dan Permata.
Letak Ibu Kota Kerajaan Majapahit berada Di Trowulan daerah mojokerto sekarang ini, dan Ibu Kota ini Merupakan Kota yang Besar, Terkenal Dengan Perayaan Besar Keagamaannya Diselenggarakan Tiap Tahun.
Agama Buddha Siwa Dan Waisnawa [Pemuja Wisnu] Dipeluk Oleh Penduduk Kerajaan Majapahit, Menurut kepercayaan Pemuja Wisnu Raja Dianggap sebagai Titisan Buddha Siwa Maupun Wisnu.
Dalam bidang Arsitektur, Walaupun Batu Bata Telah Digunakan diwaktu itu, namun Arsitek dalam pembuatan Candi Pada Masa Kerajaan Majapahit lah Yang Paling Ahli Menggunakannya.
Candi-Candi Kerajaan Majapahit Berkualitas sangat Baik Secara Geometris Dengan Memanfaatkan Getah dari Tumbuhan Merambat dicampur dengan Gula Merah Sebagai Perekat Batu Bata tersebut. Contoh Candi Kerajaan Majapahit Yang Masih dapat Ditemui hingga masa sekarang Adalah Candi Tikus Dan Candi Bajangratu Di Trowulan – Kota Mojokerto, Jawa timur.

Birokrasi dalam Struktur Pemerintahan kerajaan Majapahit. Susunan Birokrasi sudah Teratur. Pada Masa Pemerintahan Hayam Wuruk, sudah Tampak Struktur Dan Birokrasi Tersebut Namun tak banyak berubah selama Perkembangan Sejarahnya. Raja tetap dianggap Sebagai Penjelmaan Dewa Di Dunia Dan Ia Memegang Otoritas Politik Tertinggi.
Raja Dibantu Oleh Sejumlah Pejabat Birokrasi Dalam Melaksanakan Pemerintahan Dengan Para Putra Dan Kerabat- kerabat Dekat Raja yang Memiliki Kedudukan Tinggi didalam kerajaan dan Perintah Raja Biasa diturunkan Kepada Pejabat-Pejabat Di Bawah Antara Lain Yaitu :

* Rakryan Mahamantri Katrini Biasa Dijabat Putra-Putra Raja
* Rakryan Mantri Ri Pakira-Kiran Dewan Menteri Yang Melaksanakan Pemerintahan
* Dharmmadhyaksa Para Pejabat Hukum Keagamaan
* Dharmma-Upapatti Para Pejabat Keagamaan


Dalam Rakryan Mantri Ri Pakira-Kiran Terdapat Seorang Pejabat Terpenting Yaitu Rakryan Mapatih Atau Patih Hamangkubhumi. Pejabat Ini Dikatakan Sebagai Perdana Menteri di masa pemerintahan modern Yang bertugas bersama-sama Raja dapat Ikut Melaksanakan Kebijaksanaan Pemerintahan. Selain Itu Terdapat Pula Semacam Dewan Pertimbangan Kerajaan Yang Anggotanya dari Para Sanak Saudara Raja Disebut “Bhattara Saptaprabhu”

Di Bawah Raja Kerajaan Majapahit Terdapat Pula Sejumlah Raja- raja Daerah disebut Paduka Bhattara. Mereka Biasa diangkat dari Saudara Atau Kerabat Dekat Raja Dan Bertugas untuk Mengumpulkan Penghasilan Kerajaan guna Penyerahan Upeti Dan sebagai Pertahanan Kerajaan di Wilayah Masing-Masing. Dalam Prasasti Wingun Pitu [ 1447 M ] Disebutkan Bahwa Pemerintahan Kerajaan Majapahit Dibagi Menjadi 14 Daerah Bawahan Yang Dipimpin Oleh Seseorang Yang Bergelar Bhre. Daerah-Daerah Bawahan Tersebut Yaitu :

* Kelinggapura
* Kembang Jenar
* Matahun
* Pajang
* Singapura
* Tanjungpura
* Tumapel
* Wengker
* Daha
* Jagaraga
* Kabalan
* Kahuripan
* Keling

Dalam Daftar Raja-Raja Kerajaan Majapahit Terdapat Periode Kekosongan Antara Pemerintahan Rajasawardhana [ Penguasa Ke-8 ] Dan Girishawardhana Yang Mungkin Diakibatkan Oleh Krisis Suksesi Yang Memecah- belah Keluarga Kerajaan Majapahit Menjadi Dua Kelompok.

Raja- raja Kerajaan Majapahit yang pernah berkuasa;
1. Raden Wijaya Bergelar Kertarajasa Jayawardhana [ 1293 - 1309 ]
2. Kalagamet Bergelar Sri Jayanagara [ 1309 - 1328 ]
3. Sri Gitarja Bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi [ 1328 - 1350 ]
4. Hayam Wuruk Bergelar Sri Rajasanagara [ 1350 - 1389 ]
5. Wikramawardhana [ 1389 - 1429 ]
6. Suhita [ 1429 - 1447 ]
7. Kertawijaya Bergelar Brawijaya I [ 1447 - 1451 ]
8. Rajasawardhana Bergelar Brawijaya II [ 1451 - 1453 ]
9. Purwawisesa Atau Girishawardhana Bergelar Brawijaya III [ 1456 - 1466 ]
10. Pandanalas Atau Suraprabhawa Bergelar Brawijaya IV [ 1466 - 1468 ]
11. Kertabumi Bergelar Brawijaya V [ 1468 - 1478 ]
12. Girindrawardhana Bergelar Brawijaya VI [ 1478 - 1498 ]
13. Hudhara Bergelar Brawijaya VII [ 1498-1518 ]

Kerajaan Majapahit Memiliki Pengaruh cukup Nyata Dan Berkelanjutan Dalam Bidang Arsitektur terutama di Indonesia. Penggambaran Bentuk Paviliun [ Pendopo ] Berbagai Bangunan Di Ibukota Kerajaan Majapahit Dalam Kitab Negarakretagama Telah Menjadi Inspirasi Bagi Arsitektur Berbagai Bangunan Keraton Di Jawa Serta Pura Dan Kompleks Perumahan Masyarakat Di Bali di Masa Kini.
Pada Zaman Kerajaan Majapahit Terjadi Perkembangan Pelestarian Dan Penyebaran Teknik Pembuatan Keris Berikut Fungsi Sosial Dan Ritualnya. Teknik Pembuatan Keris Mengalami Penghalusan Dan Pemilihan Bahan Menjadi Semakin Selektif. Keris Pra-Kerajaan Majapahit Dikenal Berat Namun Semenjak Masa Ini Dan Seterus Bilah Keris dikenali Ringan Tetapi masih Kuat dan hal ini menjadi Petunjuk Kualitas Sebuah Keris di masa tersebut.
Penggunaan Pusaka - Keris Sebagai Tanda Kebesaran Kalangan Aristokrat Juga Berkembang Pada Masa Ini Dan akhirnya meluas Ke berbagai Penjuru Nusantara Terutama Di Bagian Barat. Selain Keris Berkembang Pula Teknik Pembuatan Dan Penggunaan Tombak ,
Arca pertapa Hindu dari masa Majapahit akhir. Terdapat di Koleksi Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem, Jerman. Majapahit telah menjadi sumber inspirasi kejayaan masa lalu bagi bangsa di- Indonesia pada abad-abad berikutnya. Kesultanan-kesultanan Islam Demak, Pajang, dan Mataram berusaha mendapatkan legitimasi atas kekuasaan mereka melalui hubungan ke Majapahit (TAMAT).

Demak Bintoro
Kesultanan-Kesultanan Islam Demak Pajang Dan Mataram Berusaha Mendapatkan Legitimasi Atas Kekuasaan Mereka Melalui Hubungan Ke Kerajaan Majapahit. Demak Menyatakan Legitimasi sebagai Keturunan dari Kertabhumi; Pendiri Kesultanan Demak bernama Raden Patah Menurut Babad- Babad Keraton Demak Dinyatakan Sebagai Anak dari Kertabhumi dari Seorang Putri Cina Yang Dikirim Ke Luar Istana Sebelum Ia Melahirkan.
Sebagai Negara adi daya di kawasan Asia Tenggara, setelah Kejayaan Kerajaan Majapahit digantikan oleh Kraton Demak Bintoro, kesultanan ini tetap aktif melakukan konsolidasi dan diplomasi. Duta Besar Kraton Demak Bintoro ditempatkan di negara-negara Islam. Misalnya saja Negeri Johor, Negeri Pasai, Negeri Gujarat, Negeri Turki, Negeri Parsi, Negeri Arab dan Negeri Mesir. Tampak kerjasama dari sesama Negeri Islam itu memang terjadi solidaritas keagamaan.
Sektor Pendidikan, para Pelajar dari Demak Bintoro juga dikirim untuk belajar ke berbagai negeri sahabat tersebut. Saat itu Kraton Demak Bintoro memang muncul sebagai Kraton maritim Islam yang makmur, lincah, ber-ilmu, kosmopolit dan agamis. Buku Babad Demak Babad Perkembangan Islam di Tanah Jawa ini memberi penjelasan yang sistematis dan komprehensif mengenai peranan Kraton Demak Bintoro di panggung babad nasional, regional dan internasional.Warisan Sejarah
Demak berkembang dan berawal dari pernyataan legitimasi keturunannya melalui Kertabhumi; melalui pendirinya, Raden Patah, menurut babad-babad keraton Demak dinyatakan sebagai anak Kertabhumi dan seorang Putri Cina, yang dikirim ke luar istana sebelum ia melahirkan. Penaklukan Mataram atas Wirasaba tahun 1615 dipimpin langsung oleh Sultan Agung sendiri memiliki arti penting karena merupakan lokasi ibukota Majapahit.
Keraton-keraton Jawa Tengah memiliki tradisi dan silsilah yang berusaha membuktikan hubungan para rajanya dengan keluarga kerajaan Majapahit — sering kali dalam bentuk makam leluhur, yang di Jawa merupakan bukti penting — dan legitimasi dianggap meningkat melalui hubungan tersebut. Bali secara khusus mendapat pengaruh besar dari Majapahit, dan masyarakat Bali adanya bangunan ibadah (pura) dan kompleks perumahan masyarakat bercorak arsitektur majapahit dan mereka menganggap diri sebagai penerus sejati dari adanya kebudayaan kerajaan Majapahit dimasa kini.
Para penggerak nasionalisme Indonesia modern, termasuk mereka yang terlibat dalam Gerakan Kebangkitan Nasional di awal abad ke-20, telah merujuk pada Kerajaan Majapahit, hal ini adalah sebagai contoh gemilang masa lalu Indonesia. Majapahit kadang dijadikan acuan batas politik negara Republik Indonesia saat ini.
Dalam propaganda yang dijalankan tahun 1920-an, Partai Komunis Indonesia menyampaikan visinya tentang masyarakat tanpa kelas sebagai penjelmaan kembali dari Majapahit yang diromantiskan. Sukarno juga mengangkat Majapahit untuk kepentingan persatuan dan kesatuan bangsa, sedangkan Orde Baru menggunakannya untuk kepentingan perluasan dan konsolidasi kekuasaan negara.
Sebagaimana Majapahit, negara Indonesia modern meliputi wilayah yang luas dan secara politik berpusat di pulau Jawa. Majapahit memiliki pengaruh yang nyata dan berkelanjutan dalam bidang arsitektur di Indonesia. Penggambaran bentuk paviliun (pendopo) berbagai bangunan di ibukota Majapahit dalam kitab Negarakretagama telah menjadi inspirasi bagi arsitektur berbagai bangunan keraton di Jawa dan Indonesia masa kini.
Kebesaran kerajaan ini dan berbagai intrik politik yang terjadi pada masa itu menjadi sumber inspirasi yang tidak henti-hentinya bagi para seniman dari masa ke-masa untuk selanjutnya dapat menuangkan kreasinya, terutama seniman di Negeri Indonesia.

Berikut adalah daftar beberapa karya seni yang berkaitan dengan masa tersebut.isi L
Serat Darmagandhul, sebuah kitab yang tidak jelas siapa penulisnya karena menggunakan nama pena Ki Kalamwadi, namun Serat Darmagandhul ini diperkirakan dari masa Kasunanan Surakarta. Kitab ini berkisah tentang hal-hal yang berkaitan dengan perubahan keyakinan orang- orang Majapahit dari agama sinkretis "Budha" menjadi agama Islam ,menceritakan sejumlah ibadah yang perlu dilakukan sebagai umat Islam, dan selain Serat Darmagandhul terdapat juga cerita- cerita kerajaan diantaranya sebagai berikut;Strip Komik
·         Serial "Mahesa Rani" karya Jan Mintaraga yang dimuat di Majalah Hai, mengambil latar belakang pada masa keruntuhan Singhasari hingga awal-awal karier Narottama (Gajah Mada).
·         Komik/Cerita bergambar Imperium Majapahit, karya Jan Mintaraga.
·         Komik Majapahit karya R.A. Kosasih
·         Strip komik "Panji Koming" karya Dwi Koendoro yang dimuat di surat kabar "Kompas" edisi Minggu, menceritakan kisah sehari-hari seorang warga Majapahit bernama Panji Koming. l Sejarah
·         Sandyakalaning Majapahit (1933), roman sejarah dengan setting masa keruntuhan Majapahit, karya Sanusi Pane.
·         Zaman Gemilang (1938/1950/2000), roman sejarah yang menceritakan akhir masa Singasari, masa Majapahit, dan berakhir pada intrik seputar terbunuhnya Jayanegara, karya Matu Mona/Hasbullah Parinduri.
·         Senopati Pamungkas (1986/2003), cerita silat dengan setting runtuhnya Singhasari dan awal berdirinya Majapahit hingga pemerintahan Jayanagara, karya Arswendo Atmowiloto.
·         Dyah Pitaloka - Senja di Langit Majapahit (2005), roman karya Hermawan Achsan tentang Dyah Pitaloka Citraresmi, putri dari Pajajaran yang gugur dalam Peristiwa Bubat.
·         Gajah Mada (2005), sebuah roman sejarah berseri yang mengisahkan kehidupan Gajah Mada dengan ambisinya menguasai Nusantara, karya Langit Kresna Hariadi.
·         Tutur Tinular, suatu adaptasi film karya S. Tidjab dari serial sandiwara radio. Kisah ini berlatar belakang Singhasari pada pemerintahan Kertanegara hingga Majapahit pada pemerintahan Jayanagara.
·         Saur Sepuh, suatu adaptasi film karya Niki Kosasih dari serial sandiwara radio yang populer pada awal 1990-an. Film ini sebetulnya lebih berfokus pada sejarah Pajajaran namun berkait dengan Majapahit pula.
·         Walisongo, sinetron Ramadhan tahun 2003 yang berlatar Majapahit di masa Brawijaya V hingga Kesultanan Demak di zaman Sultan Trenggana.
Daftar Raja- raja Majapahit;
No
Provinsi
Gelar
Penguasa
Hubungan dengan Raja
1
Kahuripan (atau Janggala, sekarang Surabaya)
Bhre Kahuripan
Tribhuwanatunggadewi
ibu suri
2
Daha (bekas ibukota dari Kediri)
Bhre Daha
Rajadewi Maharajasa
bibi sekaligus ibu mertua
3
Tumapel (bekas ibukota dari Singhasari)
Bhre Tumapel
Kertawardhana
ayah
4
Wengker (sekarang Ponorogo)
Bhre Wengker
Wijayarajasa
paman sekaligus ayah mertua
5
Matahun (sekarang Bojonegoro)
Bhre Matahun
Rajasawardhana
suami dari Putri Lasem, sepupu raja
6
Wirabhumi (Blambangan)
Bhre Wirabhumi
Bhre Wirabhumi1
anak
7
Paguhan
Bhre Paguhan
Singhawardhana
saudara laki-laki ipar
8
Kabalan
Bhre Kabalan
Kusumawardhani2
anak perempuan
9
Pawanuan
Bhre Pawanuan
Surawardhani
keponakan perempuan
10
Lasem (kota pesisir di Jawa Tengah)
Bhre Lasem
Rajasaduhita Indudewi
sepupu
11
Pajang (sekarang Surakarta)
Bhre Pajang
Rajasaduhita Iswari
saudara perempuan
12
Mataram (sekarang Yogyakarta)
Bhre Mataram
Wikramawardhana2
keponakan laku-laki
Catatan:
1 Bhre Wirabhumi sebenarnya adalah gelar: Pangeran Wirabhumi (blambangan), nama aslinya tidak diketahui dan sering disebut sebagai Bhre Wirabhumi dari Pararaton. Dia menikah dengan Nagawardhani, keponakan perempuan raja.
2 Kusumawardhani (putri raja) menikah dengan Wikramawardhana (keponakan laki-laki raja), pasangan ini lalu menjadi pewaris tahta.




















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar